Minggu, 21 Juli 2013

Sejarah Masuknya Islam di Manado Khususnya Desa Bailang Kecamatan Bunaken

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kota Manado adalah ibu kota dari provinsi Sulawesi Utara. Kota Manado sering kali disebut sebagai Menado. Motto Sulawesi Utara adalah Si Tou Timou Tou, sebuah filsafat masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti “Manusia hidup untuk memanusiakan yang lain” atau “Orang hidup untuk menghidupkan yang orang lain”.
Islam merupakan agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, dimana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Kota Manado merupakan pengembangan dari sebuah negeri yang bernama Pogidon. Kota Manado diperkirakan telah terkenal sejak abad ke-16. Menurut sejarah, pada abad itu jugalah Kota Manado telah didatangi oleh orang-orang dari luar negeri. Nama “Manado” daratan mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama “Pogidon” atau “Wenang”. Kata Manado sendiri merupakan nama pulau disebelah pulau Bunaken, kata ini berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti “di jauh”.
Penduduk Muslim di Manado merupakan minoritas hanya 30% penduduknya beragama Islam dibandingkan dengan penduduk Kristen yang mencapai 68%, dan 2% lainnya beragama lain.
B.     Rumusan Masalah
Dari penjelasan yang diutarakan di atas, maka dapat diperoleh rumusan masalah di antanya: 1. Bagaimana sejarah masuknya Islam di Manado? 2. Bagaimana kehidupan penduduk Islam di Manado? 3. Bagaimana perkembangan Islam di Manado?
C.     Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang dipaparkan di atas penulis pun membatasi penelitiannya terhadap Islam dan perkembangannya.
D.    Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah masuknya Islam di Manado, mengetahui perkembangan penduduk Islam di Manado dan kehidupan masyarakat Islam yang berada di Manado.
E.     Manfaat
Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi badi masyarakat dan mahasiswa tentang Islam di Manado.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Kota Manado
Kota Manado merupakan pengembangan dari sebuah negeri yang bernama Pogidon. Kota Manado diperkirakan dikenal sejak abad ke-16. Menrut sejarah, pada abad itu jugalah Kota Manado telah didatangi oleh orang-orang dari luar negeri. Nama “Manado” daratan mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama “Pogidon” atau “wenang”. Kota Manado sendiri merupakan nama pulau disebelah pulau Bunaken, kata ini berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti “di jauh”. Pada tahun itu juga, tanah Minahasa-Manado mulai dikenal dan populer di antara orang-orang Eropa dengan hasil buminya. Hal tersebut tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah.
Keberadaan Kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur Jendral Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919. Dengan besluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad  yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester). Pada tahun 1951, Gemeente Manado menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951, terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1957, Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959, Kotapraja Manado ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965, Kotapraja Manado berubah status menjadi Kotamadya Manado yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor  5 Tahun 1974.
B.     Letak Geografis kota Manado
Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada posisi geografis 124o40’ – 124o50’ BT dan 1o30 – 1o40’ LU. Iklim di kota ini adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24o – 27o C. Curah hujan rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim tekering di sekitar bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari. Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53% dan kelembaban nisbi ±84%.
Luas wilayah daratan adalah 15.726 hektar. Manado juga merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya didominasi oelh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ketinggian dataran antara 0-40% dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.
C.     Pemerintah Kota Manado
Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) nomor 4 tanggal 27 September 2000 tentang perubahan status desa menjadi kelurahan di kota Manado dan PERDA nomor 5 tanggal 17 September 2000 tentang pemekaran kecamatan dan kelurahan, wilayah kota Manado yang semula terdiri atas 5 kecamatan dengan 68 kelurahan/desa dimekarkan menjadi 9 kecamatan dengan 87 kelurahan.
Tabel Daftar Kecamatan beserta Luasnya
No
Kecamatan
Luas Wilayah (hektar)
Jumlah Kelurahan
1.
Bunaken
5.212,5
8
2.
Malalayang
1.640
9
3.
Mapanget
4.913,55
11
4.
Sario
144,8
7
5.
Singkil
587,13
9
6.
Tikala
1.588,4
12
7.
Tuminting
700,14
10
8.
Wanea
659,95
9
9.
Wenang
279,5
12

Penduduk kota Manado berasal dari suku Minahasa, karena wilayah Manado merupakan berada di tanah/daerah Minahasa. Penduduk asli Manado adalah suku Bantik, suku bangsa lainnya yang ada di Manado saat ini yaitu suku Sanger, suku Gorontalo, suku Mongondow, suku Arab, suku Babontehu, suku Talaud, suku Tionghoa, suku Siau, dan kaum Borgo.
D.    Sejarah Masuknya Islam di Manado
Agama Islam yang pertama kali masuk di Manado yaitu melalui Munahasa, maskunya Islam pertama kali di Minahasa pada tahun 1525 melalui Belang, dibawah oleh orang-orang Bolaang Mongondow. Kemudian lebih berkembang karena datangnya pejuang-pejuang kemerdekaan yang dibuang/ditawan oleh penjajah Belanda, antara lain Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, bersama pengikutnya.
1.      Kyai Modjo di tondano – Minahasa
Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1792 dan kemudian menjadi guru agama Pajang dekat Delanggu, Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah. Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif, yang merupakan seorang ulama dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (perdikan/swatantra) Raja Surakarta kepada beliau. Ibu Kyai Modjo adalah saudara perempuan Hamengku Buwono III, dan dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kyai Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai Modjo bersepupu dengan Pangeran Diponegoro.
Kyai Modjo mempelajari agama Islam dengan berguru kepada Kyai Syarifudin di Gading Santren Klaten. Setelah dewasa, ia berguru kepada Kyai Ponorogo. Disinilah Kyai Modjo mendapatkan pengajaran tentang ilmu kanuragan. Sejak saat itulah beliau terkenal akan kesaktiannya, disamping terkenal akan pendidikan agama dan pesantrennya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VIPB VI.
Sepeniggal ayahnya, Kyai Modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di pesantren Modjo di mana banyak putra dan putri dari kraton SoloKraton Yogyakarta kemungkinan membuat pangeran diponegoro memilih Kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.
Dekadensi moral yang terjadi di keraton kemudian berimbas pada kehidupan masyarakat luas semakin menderita, telah menjadi sebab keluarga Imam Abdul Ngarip, khususnya Muhammad Muslim (Kyai Modjo) berserta saudara-saudaranya dan masyarakat luas mengangkat senjata menetang Belanda. Setelah di tangkap oleh Belanda pada 17 November 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah, Kyai Modjo dibawah ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Tondano – Minahasa (Sulawesi Utara) hingga wafat di sana pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun.
2.      Kyai Hasan Maulani
Pada seperempat abad 18 tarekat Syattariyah adalah tarekat yang peling tersebar luas di daerah Banyumas. Diperkirakan, tarekat ini bersumber dari murid-murid Syekh Abdul Mukhyi, Garut, seorang mursyid tarekat Syattariyah yang mendapatkan ijazah Irsyad-nya dari Syekh Abdurrauf Singkel, Aceh. Di Banyumas, Syattariyah menciptakan varian baru yang menggabungkan beberapa ajaran tarekat Akmaliyah/Kamaliyah. Kyai Hasan Maulani adalah guru sekaligus pendiri tarekat Akamaliyah di Cirebon. Akmaliyah merupakan tarekat yang kental dengan ajaran wahdatul wujud dan sinkretisme Jawa. Banyaknya pengikut tarekat Akmaliyah menakutkan penguasa saat itu. Hal ini mendorong Belanda membuang Kyai Hasan Maulani ke Tondano pada tahun 1846.

3.      Pangeran Ronggo Danupoyo
Pangeran Ronggo Danupoyo adalah anak dari Pangeran Aryo Danupoyo atau cucu dari Sunan Pakubuwono IV di Surakarta Jawa Tengah. Beliau menentang kebijakan Belanda, dan karena itu dibuang ke Tondano. Di kampung Jawa Tondano Ronggo Danupoyo menikah dengan putri dari Suratinoyo dan memperoleh 6 orang anak, salah satu anaknya kembali ke Jawa sedangkan 5 anaknya yang lain (2 laki dan 3 perempuan) tetap tinggal di kampung Jawa Tondano. Dari 2 orang anak laki-lakinya (Raden Glemboh dan Raden Intu) menurunkan keluarga (fam) Danupoyo sekarang ini.
4.      Imam Bonjol
Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan pada tahun 1772 di kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Ia dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainnya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol. Dia adalah pemimpin yang peling terkenal dalam gerakan Padri di Sumatra, yang pada mulanya menentang perjudian, adu ayam, penggunaan opium, minuman keras, tembakau dan lain-lain, tetapi kemudian mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda, yang mengakibatkan perang Padri (1821-1838).
Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berhasil diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawah ke Minahasa. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 November 1864 dalam usia 92 tahun, dikebumikan didesa Lotak Pineleng berjarak 25 km dari Tondano ke arah Manado. Beberapa pengikut Imam Bonjol kemudian menikah dengan wanita kampung Jawa Tondano adalah Mallim Muda (menikah dengan cucu Kyai Demak), Haji Abdul Halim (menikah dengan Wonggo-Masloman), Si Gorak Panjang (menikah dengan putri Nurhamidin), dan Malim Musa. Dari mereka menurunkan keluarga (fam) Baginda di Minahasa dewasa ini.
5.      K.H. Ahmad Rifa’i
Kyai Haji Ahmad Rifa’i dilahirkan pada 9 Muharam 1200 H atau 1786 di desa Tempuran Kabupaten Semarang. Beliau seorang ulama keturunan Arab, memimpin suatu pesantren di Kendal Jawa Tengah. Setelah beberapa kali keluar masuk penjara Kendal dan Semarang karena dakwanya tegas, dalam usia 30 tahun.
Tahun 1272 H (1856) adalah merupakan tahun permulaan krisis bagi gerakan Kyai Haji Ahmad Rifa’i. Hal ini disebabkan hampir seluruh kitab karangan disita oleh pemerintah Belanda, disamping itu para murid dan Ahmad Rifa’i sendiriterus menerus mendapat tekanan Belanda. Sebelum Haji Ahmad Rifa’i diasingkan dari Kaliwungu Kendal Semarang, tuduhan yang dikenal hanyalah persoalan menghasut pemerintah Belanda dan membawa Haji Ahmad Rifa’i dipenjara beberapa hari di Kendal, semarang dan terakhir di Wonosobo.
Tahun 1859 Ahmad Rifa’i diasingkan Belanda ke Ambon, kemudian diasingkan ke Tondano pada tahun 1861bergabung dengan grup Kyai Modjo. Dikampung Jawa Tondano K.H Ahmad Rifa’i menciptakan kesenian terbang (rebana) disertai dengan lagu-lagu, syair-syair, nadzam-nadzam yang diambil dari kitab karangannya. Beliau wafat di Kampung Jawa Tondano pada Kamis 25 Rabiul Akhir 1286 H atau tahun 1872 (usia 86 tahun) dan dimakamkan dikomplek makan Kyai Modjo.
6.      Sayid Abdullah Assagaf
Sayid Abdullah Assagaf adalah orang Arab yang lahir di Palembang, Sumatra Selatan. Belanda mengasingkannya di Tondano pada tahun 1880 karena menganggapnya mengahasut masyarakat untuk melawan Belanda. Di Palembang Assagaf konon menikah dengan wanita Belanda (Nelly Meijer) putri Residen Bengkulu. Dari pernikahannya dengan wanita Belanda ini ia memperoleh satu orang anak laki-laki (Raden Nguren/Nuren). Sebelum menikah dengan Assagaf, Nelly Meijer adalah janda beranak satu dari perkawinannyya dengan adik sultan Palembang (Mahmud Badaruddin II). Nelly Meijer dan kedua anaknya kemudian menyusul ke Kempung Jawa Tondano dan Raden Nguren kemudian menikah dengan wanita Minahasa asal Remboken. Anak Nelly Meijer yang satunya lagi menikah di Kampung Jawa Tondano dan menurunkan keluarga (fam) Catradinigrat. Di Kampung Jawa Tondano Sayed Abdullah Assagaf menikah lagi dengan Ramlah Suratinoyo dan memiliki 7 orang anak, dan dari mereka menurunkan keluarga (fam) Assagaf di Kampung Jawa Tondano.
Keberadaan Abdullah Assagaf di Kampung Jawa Tondano telah mendistorsi budaya Kampung Jawa Tondano yang semula sangat kental dengan budaya Jawa. Abdullah Assagaf berhasil mentransfer dan mengawinkan budaya Arab-Sumatra dengan budaya Jawa dan melahirkan budaya Jaton generasi ketiga.
7.      Gusti Perbatasari
Pangeran Perbatasari melakukan pemberontakan tehadap Belanda namun kemudian ia ditangkap di daerah Kutai ketika dalam perjalanan membeli persenjataan dan tahun 1884 diasingkan ke Kampung Jawa Tondano. Di Kampung Jawa Tondano Pangeran Perbatasari menikah dengan wanita Jawa Tondano. Satu orang saudara laki-lakinya (Gusti Amir) kemudian menysul ke Kampung Jawa Tondano dan menikah dengan wanita Jawa Tondano (fam.Sataruno).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa masuknya Islam di Manado itu awal mulanya dari di asingkannya para pahlawan ke Kampung Jawa Tondano. Manado merupakan kota yang selalu dikunjungi orang-orang diluar daerah kota Manado seperti Gorontalo, Sanger, Minahasa, dll, hal tersebut disebabkan karena kota Manado pusat perdagangan.
Masuknya Islam di Manado bukan hanya melalui para pahlawan yang diasingkan ke Tondano, tetapi melalui para pedagang Arab yang singgah di pesisir daerah Manado. Disamping berdagang mereka juga menyiarkan ajaran agama Islam.Kemudian Islam masuk di Manado juga melalui jalur pernikahan.
E.     Masuknya Islam di Desa Bailang
Bailang merupakan desa yang terletak didaerah kecamatan Tuminting kota Manado. Dinamakan desa Bailang karena konon katanya dahulu pada zaman penjajahan Belanda, tentara Belanda yang masuk di desa Bailang tidak bisa keluar dari desa Bailang. Hal tersebut dikarenakan tentara Indonesia yang ditugaskan di desa Bailang membunuh mereka secara diam-diam.
Desa Bailang terdiri dari 5 lingkungan, masyarakat di desa Bailang bervarian ragamnya, ada suku Gorontalo, Sangir, Minahasa, Bantik, Bugis, Jawa. Walaupun beraneka ragam tetap aman sejahtera.
Islam masuk di desa Bailang dibawah dari para perantau yang berasal dari Gorontalo, Jawa, Kotamobagu. Perkembangan Islam di desa Bailang cukup stabil, masyarakat muslim di desa Bailang sekarang ini gemar-gemarnya mengikuti suatu jama’ah yang sering masyarakat Bailang kenal dengan sebutan Jama’ah Tabliq.
Jama’ah Tabliq awal mulanya tidak begitu berkembang di kalangan masyarakat desa Bailang akan tetapi sekarang ini masyarakat di desa Bailang banyak yang mengikuti Jama’ah Tabliq.
Awal mulanya Jama’ah Tabliq ini berasal dari desa Maasing kecamatan Tuminting, lambat laun sudah menyebar sampai ke desa Bailang. Jama’ah Tabliq ini mengajak para kaum muslimin untuk lebih taqwa dan beriman kepada Allah, mencintai Rasul dan mengikuti sunnah Rasul.
Tiap Senin malam para anggota Jama’ah Tabliq berkumpul di Mesjid untuk mendengarkan siraman-siraman rohani dengan mengajak para masyarakat yang belum menjadi anggota Jama’ah Tabliq untuk bisa menjadi anggota Jama’ah Tabliq.
Para anggota Jama’ah Tabliq sering keluar kota/desa selama beberapa hari atau bahkan sampai 40 hari meninggalkan urusan duniawi kemudian mengurusi urusan akhirat, yaitu menyebarkan agama Islam atau menegakkan ajaran agama Islam.
Dengan adanya Jama’ah tabliq ini masyarakat di desa Bailang lebih terarahkan dalam hal ketaqwaan kepada Allah SWT, dan juga lebih mencintai Rasul. Tidak semua masyarakat di desa Bailang mengikuti Jama’ah Tabliq ini, akan tetapi Alhamdulillah dengan adanya Jama’ah Tabliq ini sudah jarang kita temukan orang-orang yang biasanya mabuk dijalanan.
Hingga sekarang Jama’ah Tabliq ini masih berperan penting dalam penyebaran dan penguatan ajaran agama Islam. Insya Allah para Jama’ah Tabliq ini masih diberi istiomah untuk menjalani profesinya.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di desa Bailang, penelitian dilakukan dari awal bulan Desember sampai awal bulan Januari tahun 2013. Dalam penulisan karya tulis ini penulis memiliki sedikit keterlambatan karena disebabkan oleh kemalasan penulis dan ketidaktahuan penulis.
Metode yang penulis lakukan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode kajian pustaka dan pengamatan secara langsung dengan indra. Dengan menulis karya tulis ini, penulis dapat mengambil pelajaran bahwa penyebaran agama Islam itu tidak semudah dengan menulis suatu karya tulis ilmiah.
Karya tulis ini masih belum sempurna karna kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan hanya milik manusia.

BAB IV
KESIMPULAN
Dari penulisan karya tulis ini penulis dapat menyimpulkan bahwa proses masuknya Islam di Manado khususnya di desa Bailang yaitu dengan cara perkawinan, melalui jalur perdagangan, pengasingan para pahlawan ke Sulawesi Utara.


1 komentar:

  1. Makasih ya gan , blog ini sangat bermanfaat sekali .............




    bisnistiket.co.id

    BalasHapus